$theTitle=wp_title(" - ", false); if($theTitle != "") { ?>
berbagi kata berbagi hati
Kamis, 19 Februari 2009 13:15 WIB
YOGYAKARTA–MI: Penelitian Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan (PSKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, menyebutkan kondisi pendidikan dan kesehatan seseorang mempengaruhi penilaian tentang
kemiskinan subyektif.
“Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, maka mereka akan merasa tidak miskin begitu pula orang yang sehat, dan sebaliknya,” kata peneliti PSKK UGM Amelia Maika dalam seminar Mengukur Kemiskinan
Subyektif di Indonesia di Yogyakarta, Kamis (19/2).
Berdasarkan penelitian, seseorang yang berpendidikan menengah dan tinggi akan mengurangi kemungkinannya merasa miskin dibanding mereka
yang berpendidikan rendah. Begitu pula dengan responden yang bekerja
dan berstatus pelajar juga akan mengurangi kemungkinan mereka untuk merasa miskin.
Sebaliknya, seseorang yang melaporkan diri dalam keadaan tidak sehat, kemungkinannya untuk merasa miskin meningkat dibanding dengan mereka
yang merasa sehat.
“Tidak ada perbedaan pandangan di kalangan responden dengan beragam latar belakang dan karakter sosio demografi,” katanya.
Dalam penelitiannya, ia menyebutkan karakteristik responden dapat digambarkan sebagai berikut, yaitu rata-rata usia adalah 36,3 tahun, sebanyak 52,6% perempuan. Jumlah komponen pendidikan rendah dan
menengah hampir sama yaitu 39,1% serta 40,6%.
Sebagian besar responden yaitu 59,3 persen berstatus bekerja, ibu rumah tangga 20,6% dan bersekolah 8,5%.
Namun demikian, Amelia menyatakan masih terdapat bias dalam pengukuran subyektif yaitu kecenderungan orang timur untuk memberi jawaban aman.
Setiap konsep kemiskinan yang berbeda memiliki metode pengukuran tersendiri dan kemiskinan tidak dapat diukur hanya dengan menggunakan
satu variabel saja. “Karena banyak faktor mampu menjelaskan mengapa seseorang dikategorikan sebagai miskin atau tidak miskin,” lanjutnya.
Amelia juga menegaskan, kondisi perekonomian bukan salah satu alasan apakah seseorang hidup dalam rumah tangga yang memiliki pengeluaran
per kapita di bawah garis kemiskinan, tidak membuat seseorang merasa miskin atau tidak miskin.
Tingkat kesejahteraan masih memiliki pengertian yang sempit dan tidak selamanya berasosiasi dengan kesejahteraan individu,katanya. (Ant/OL-01)
sumber: millis dikbud
Recent Comments