bicara masalah kampanye, memang tak ada habisnya. apalagi di negara kita yang nota bene lagi gede-gedenya semangat untuk menyalurkan ’syahwat politik’. yang hampir selama empat dekade terkungkung oleh penjajahan putera negeri sendiri.

akhirnya, permisifisme masih menjadi nilai sakral untuk menjawab segala bentuk pelanggaran dalam pelaksanaan kampanye damai pemilu indonesia 2009. bukan tanpa sebab penulis sebutkan demikian. di lapangan, dari ratusan ribu pelanggaran yang terjadi toh yang diproses sampai ranah hukum mungkin hanya ratusan. selanjutnya yang sampai masuk proses pengadilan paling puluhan saja (perlu penelitian lebih lanjut).

hal tersebut dapat kita amati lewat pemberitaan mass media. baik lewat koran, televisi, radio maupun internet. cukup memprihatinkan sebenarnya bagi masyarakat awam seperti saya ini.

terus berpikir sejenak dan bertanya dalam hati: mau diapakan sih sebenarnya republik ini? mau di buat seperti amerika yang katanya ‘mbahnya’ demokrasi? tapi dalam hitungan menit runtuh paradox ekonominya akibat liberalisasi dan demokratisasi ekonomi. atau seperti cina? dengan kepemimpinan otoriternya mampu membelalakkan mata dunia dengan kemajuan teknologi dan industrinya? atau mau seperti singapura? yang dengan segala cara menghalalkan metode cepat mejadi makmur. termasuk dengan ‘membunuh’ mahasiswa indonesia yang menemukan teori yang memiliki nilai jual tinggi.

atau seperti negeri antah berantah? yang tak tahu kemana negerinya akan dibawa. sehingga semuanya berebut untuk menjadi pahlawan kesiangan. lalu kemana yang namanya ‘rencana pembangunan lima tahun’ (repelita)? program yang sebenarna bagus di tahap-tahap awal, namun busuk di kemudian.

busuk bukan karena programnya. namun justru yang menjalankan program itu sendiri. kenapa kok tidak dicoba untuk digulirkan kembali, tanpa bermaksud untuk menancapkan kuku kekuasaan dengan lebih dalam.